
POPNEWS.ID — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda meningkatkan kewaspadaan terhadap laju inflasi yang berpotensi menembus angka 4 persen.
Langkah pengendalian diperkuat setelah inflasi Samarinda tercatat 3,77 persen, atau sudah berada di atas target 3,5 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar di Ruang Mangkupelas Lantai II Gedung Balai Kota Samarinda, Senin (24/8/2026).
Rakor dipimpin Kepala Bagian Ekonomi Setda Samarinda Nadya Turisna bersama Kepala Bagian Kesra Syamsu Nur.
Pertemuan turut diikuti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Satgas Pangan, perangkat daerah terkait, serta seluruh camat se-Samarinda.
Camat Dilibatkan untuk Percepat Informasi Harga
Pelibatan seluruh camat dinilai penting untuk memperkuat pemantauan kondisi harga di lapangan.
Informasi dari masing-masing wilayah diharapkan dapat membantu pemerintah mengetahui lebih cepat apabila terjadi kenaikan harga komoditas.
Sebelum rakor tingkat kota, peserta juga mengikuti secara virtual Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri dan dipimpin Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir.
Dari forum tersebut, pembahasan kemudian diarahkan pada kondisi harga, ketersediaan pasokan, serta kebutuhan intervensi di Kota Samarinda.
Nadya mengatakan koordinasi pengendalian inflasi ke depan akan dilakukan lebih intensif.
Selain rapat rutin setiap pekan, evaluasi juga akan dilakukan setelah rilis Consumer Price Index (CPI).
“Jadi nanti setiap habis rilis CPI, berarti minggu depannya itu kami undang, biar kita tahu posisi inflasi Kota Samarinda seperti apa,” ujar Nadya.
Menurutnya, forum tersebut juga akan menjadi ruang untuk menentukan langkah intervensi yang diperlukan berdasarkan kondisi terbaru.
“Dan nanti kemungkinan kita akan melakukan semacam informasi atau briefing atau saling sharing apa yang mau kita lakukan, supaya kita bisa menentukan intervensi dan upaya yang perlu dilakukan untuk mengendalikan harga,” lanjutnya.
Harga Cabai Mulai Menunjukkan Tekanan
Sinyal kewaspadaan juga terlihat dari pemantauan melalui Early Warning System (EWS).
Beberapa komoditas mulai mengalami tekanan harga, terutama cabai, daging ayam ras, jagung, dan ikan.
Harga cabai biasa tercatat meningkat dari Rp53.300 menjadi Rp58.800 per kilogram atau naik 10,32 persen.
Sementara cabai keriting naik 3,29 persen dan cabai merah besar meningkat 2,62 persen.
Daging ayam broiler juga mengalami kenaikan sebesar 1,42 persen.
Pergerakan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat pemantauan mulai dari pasar hingga distributor.
Kondisi di tingkat distributor sejauh ini masih relatif stabil. Karena itu, Pemkot Samarinda menilai ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi perlu terus dijaga agar tekanan harga tidak semakin meluas.
Bulog dan Pertamina Jaga Pasokan
Dari sektor pangan, Bulog Samarinda memastikan segera merealisasikan penyaluran bantuan pangan ke sejumlah kecamatan.
Penyaluran tersebut ditujukan agar bantuan dapat diterima masyarakat sesuai jadwal.
Sementara dari sektor energi, Pertamina Patra Niaga memastikan stok BBM dan LPG di Samarinda tetap aman.
Pemantauan antrean di SPBU juga terus dilakukan, termasuk pengawasan terhadap penggunaan tangki kendaraan agar sesuai standar.
Pemkot juga meminta camat memastikan distribusi LPG 3 kilogram diberikan kepada warga yang telah terdata dan memiliki kartu sesuai peruntukannya.
Berdasarkan laporan Pertamina Patra Niaga, stok LPG subsidi saat ini sekitar 1.374 metrik ton dengan ketahanan tiga hingga empat hari. Suplai disebut dilakukan setiap hari.
Nadya menegaskan, apabila ditemukan alokasi LPG masyarakat justru dialihkan kepada penjual atau pihak lain, masyarakat diminta segera melaporkannya untuk ditindaklanjuti bersama Hiswana Migas.
OPM Didorong Dilakukan Secara Preventif
Satgas Pangan Samarinda turut mengingatkan agar intervensi harga dilakukan berdasarkan penyebab kenaikan.
Jika tekanan harga berasal dari tingginya biaya distribusi dan angkutan, intervensi perlu diarahkan pada sektor tersebut agar kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran.
Di sektor perikanan, pasokan ikan pelagis dan tongkol dilaporkan meningkat.
Harga sejumlah ikan juga masih relatif terjangkau sehingga ikan lokal dapat menjadi alternatif konsumsi masyarakat.
Pemkot Samarinda juga memperkuat stabilisasi melalui Operasi Pasar Murah (OPM) bersama Perumda Varia Niaga. Komoditas yang disediakan antara lain minyak goreng, telur, dan gula, dengan rencana pelaksanaan di kawasan TPI Harapan Baru.
OPM didorong tidak hanya dilakukan ketika harga sudah melonjak, tetapi secara preventif minimal sebulan sekali. Pemkot juga mendorong penguatan gerakan pangan lokal hingga tingkat RT.
Di sisi lain, faktor cuaca turut menjadi perhatian. BMKG mengingatkan kondisi El Niño kategori sangat kuat pada puncak musim kemarau Agustus yang berpotensi memengaruhi produksi pangan dan kondisi lingkungan.
Melalui koordinasi lintas sektor, Pemkot Samarinda berupaya memastikan perkembangan harga dapat diketahui lebih cepat dan diikuti langkah intervensi yang tepat.
Pengendalian inflasi kini diarahkan tidak hanya pada pemantauan harga, tetapi juga penguatan pasokan, kelancaran distribusi, pengawasan LPG dan BBM, bantuan pangan, hingga operasi pasar murah.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat Samarinda. (*)


