POPNEWS.ID – Bunyi gendang dari Galampa, rumah adat yang menjadi pusat kehidupan budaya masyarakat, memecah keheningan pagi di Desa Lapandewa Kaindea, Kabupaten Buton Selatan.
Irama yang mengalun bukan sekadar bunyi, melainkan panggilan yang telah diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat setempat, bunyi gendang tersebut adalah pertanda dimulainya Pesta Adat Tahunan.
Kali ini, pesta adat yang dirayakan yakni “Pibacua” yang dimulai Selasa hingga Rabu (29/7/2026).
Pibacua, sebuah perayaan yang lahir dari rasa syukur atas limpahan hasil bumi dan ikatan persaudaraan yang terus dipelihara lintas generasi.
Sejak pagi, suasana desa berubah menjadi lebih semarak.
Warga dari berbagai penjuru kampung berdatangan dengan wajah penuh sukacita.
Di setiap rumah, para ibu sibuk menyiapkan hidangan terbaik, sementara para lelaki bergotong royong memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung dengan khidmat.
Aroma masakan tradisional memenuhi udara, menghadirkan kehangatan yang menjadi ciri khas perayaan adat di tanah Buton.
Pibacua bukan sekadar pesta tahunan.
Dilansir dari berbagai sumber, tradisi ini merupakan wujud penghormatan masyarakat kepada Sang Pencipta atas hasil pertanian yang telah mereka nikmati sepanjang musim.
Umbi-umbian, ubi jalar, dan berbagai hasil kebun menjadi simbol keberkahan yang patut disyukuri.
Di balik setiap hidangan yang tersaji, tersimpan doa agar tanah tetap subur, panen berikutnya melimpah, dan kehidupan masyarakat senantiasa diberkahi.
Prosesi adat diawali dengan pemukulan gendang oleh tokoh masyarakat di Galampa.
Suara gendang yang menggema seakan mengundang seluruh warga untuk berkumpul dalam satu ikatan kebersamaan.
Setelah prosesi pembukaan, masyarakat menikmati santap bersama di Galampa sebagai lambang persatuan tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.
Kemeriahan semakin terasa ketika berbagai kesenian tradisional mulai ditampilkan.
Tari Linda dan Tari Ponarea dibawakan dengan gerakan yang anggun dan penuh makna, menggambarkan keharmonisan hubungan manusia dengan sesama.
Atraksi silat tradisional turut memukau para pengunjung, memperlihatkan ketangkasan sekaligus semangat menjaga warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad.
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, pesta adat menjadi pengingat bahwa adat istiadat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup di tengah masyarakat.
Tradisi ini mengajarkan bahwa rasa syukur tidak hanya diucapkan melalui doa, tetapi juga diwujudkan dalam kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam yang telah memberikan kehidupan.
Bagi masyarakat Lapandewa Kaindea, dentuman gendang di Galampa akan selalu menjadi suara yang menyatukan hati.
Ia menghidupkan kembali kenangan para leluhur, menguatkan persaudaraan, dan menegaskan bahwa selama tradisi terus dijaga, nilai-nilai kebersamaan akan tetap tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. (redaksi)
