
POPNEWS.ID – DPRD Samarinda menyoroti persoalan keterisian kios di Pasar Pagi yang hingga kini belum maksimal.
DPRD Samarinda meminta pemerintah memastikan jumlah kios yang belum digunakan sekaligus mencari solusi agar aktivitas perdagangan di pasar tersebut kembali bergeliat.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan pihaknya menemukan masih banyak kios yang belum beroperasi saat melakukan inspeksi ke Pasar Pagi.
Namun, ia belum mengetahui jumlah terbaru kios yang kosong karena pemerintah masih melakukan pendataan.
“Data terakhir yang saya dapat saat sidak memang masih cukup banyak kios yang belum terisi. Sekarang informasinya jumlahnya sudah jauh berkurang, tetapi angka pastinya harus kita pastikan lagi,” ujar Iswandi.
Ia menyebut sebelumnya terdapat sekitar 1.500 kios yang belum terisi.
Karena itu, DPRD Samarinda akan meminta data terbaru kepada pihak terkait untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
“Jangan hanya menyebut tinggal sedikit, tetapi kita perlu tahu persis berapa kios yang sudah terisi dan berapa yang masih kosong,” katanya.
Selain keterisian, Iswandi menilai pola pembagian kios juga menjadi salah satu kendala.
Ia menemukan pedagang yang memperoleh dua hingga tiga kios dengan menggunakan data anggota keluarga, sementara pengelolaannya tetap dilakukan oleh satu orang.
Menurutnya, kondisi tersebut menyulitkan pedagang untuk membuka seluruh kios, terutama ketika lokasi kios berada di lantai berbeda.
Pedagang juga harus menghitung biaya operasional dan tenaga kerja untuk menjaga setiap lapak.
“Kalau satu kios saja omzetnya belum tentu stabil, tentu pedagang akan berpikir untuk membuka kios lain. Apalagi kalau harus membayar orang untuk menjaga lapak di lantai berbeda,” jelasnya.
Politisi PDIP ini mendorong pemerintah dan pedagang duduk bersama untuk membahas pola pengelolaan yang lebih efektif.
Salah satu opsi yang dapat dikaji ialah menggabungkan penggunaan kios agar ruang perdagangan dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Yang paling penting sekarang kita jangan hanya membahas persoalannya. Kita harus duduk bersama dan mencari pola yang bisa membuat Pasar Pagi kembali ramai,” tegas Iswandi.
Ia menambahkan keberhasilan Pasar Pagi tidak hanya diukur dari jumlah kios yang terisi, tetapi juga dari meningkatnya aktivitas pedagang dan kunjungan pembeli.
Ia juga menerima masukan mengenai akses menuju lantai tertentu, termasuk usulan penambahan eskalator.
Iswandi berharap komunikasi antara pemerintah dan pedagang terus diperkuat sehingga persoalan teknis dapat diselesaikan secara bertahap.
“Kita fokus pada solusi dan membicarakan hal-hal yang benar-benar bisa memberikan manfaat bagi pengembangan Pasar Pagi,” pungkasnya. (Adv)
