
POPNEWS.ID – Penyanyi sekaligus songwriter Mytha Lestari angkat bicara soal polemik perilisan ulang lagu “Percuma” oleh Mahalini.
Menurut Mytha, perdebatan yang melibatkan Mahalini dan Anggis Devaki di media sosial muncul karena netizen keliru memahami persoalan hak cipta dan kepemilikan master rekaman.
Mytha menegaskan dirinya tidak bermaksud membela salah satu pihak.
Ia melihat persoalan tersebut dari sudut pandang sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu.
Menurut Mytha, masyarakat perlu memahami perbedaan antara hak cipta lagu dan hak ekonomi atas master rekaman.
Pencipta memiliki hak atas karya yang dibuatnya, sedangkan hak ekonomi atas rekaman atau master dapat berada di tangan pihak lain sesuai dengan perjanjian yang berlaku.
Mytha menjelaskan, Mahalini memiliki posisi sebagai pencipta “Percuma”.
Karena itu, menurutnya, Mahalini pada dasarnya memiliki hak untuk kembali menyanyikan lagu yang ia tulis.
“Ketika Lini memang diizinkan untuk menyanyikan lagi, sebenarnya Lini punya hak penuh untuk menyanyikan lagi,” ujar Mytha.
Namun, Mytha menyebut persoalan dapat menjadi lebih kompleks ketika seorang musisi terikat dengan label.
Kesepakatan terkait kampanye pemasaran, kerja sama merek, maupun aktivitas promosi lain bisa memengaruhi penggunaan sebuah lagu.
Mahalini dan Anggis Dinilai Dibenturkan
Mytha juga melihat netizen seolah-olah mempertemukan Mahalini dengan Anggis dalam sebuah konflik.
Padahal, menurutnya, belum tentu ada persoalan langsung di antara keduanya.
Ia bahkan mengaku pernah berbicara dengan Mahalini mengenai polemik tersebut.
Dalam percakapan itu, Mahalini disebut memahami bahwa pencipta lagu memiliki ruang untuk menentukan pilihan terhadap karya yang mereka ciptakan.
Mytha kemudian meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan maksud sebuah pernyataan di media sosial.
Ia mencontohkan tulisan yang dibuat penyanyi asli “Percuma” yang langsung diasumsikan netizen sebagai sindiran kepada Mahalini.
Menurut Mytha, asumsi tersebut belum tentu benar.
Mahalini sendiri disebut pernah mengatakan bahwa dirinya tidak berpikir tulisan tersebut ditujukan kepadanya.
Berharap Polemik Tidak Dipanaskan
Mytha menilai persoalan “Percuma” semakin ramai karena adanya penggiringan opini.
Ia berharap publik tidak terus memperbesar persoalan yang belum tentu merupakan konflik antara Mahalini dan Anggis.
“Jadi sebenarnya ini ricuh dan riuh karena ada penggiringan opini aja, padahal sih gak kenapa-kenapa,” kata Mytha.
Lagu “Percuma” sebelumnya dikenal lewat versi yang dibawakan Anggis Devaki dan Betrand Peto.
Ketika Mahalini merilis ulang lagu ciptaannya tersebut, perbedaan versi dan persoalan hak kemudian menjadi bahan perbincangan di kalangan netizen. (*)


