Nasional
Trending

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$128

POPNEWS.ID – Harga minyak dunia di perkirakan masih akan melanjutkan reli tajam dalam waktu dekat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.



Para analis menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu gangguan pasokan energi global.

Analis teknikal Reuters Wang Tao memperkirakan harga minyak acuan global Brent Crude Oil dapat melonjak hingga kisaran US$120 hingga US$128 per barel dalam waktu dekat.

Proyeksi tersebut muncul setelah harga Brent berhasil menembus zona resistensi penting pada perdagangan awal pekan.

Harga Brent Tembus Level Resistensi Kunci

Wang Tao menjelaskan harga Brent baru saja menembus area resistensi kuat di kisaran US$105,43 hingga US$108,48 per barel.

Level tersebut terbentuk dari proyeksi Fibonacci 38,2% dari gelombang C sejak posisi US$58,81 serta retracement 61,8% dari tren penurunan yang di mulai dari level US$139,19.

Menurutnya, pergerakan tersebut menunjukkan pasar telah memasuki fase kenaikan yang sangat kuat.

Harga juga membentuk celah kenaikan atau runaway gap kedua, yang sering menjadi sinyal awal dari reli besar di pasar komoditas.

“Jika momentum kenaikan ini terus berlanjut, harga Brent berpotensi bergerak menuju kisaran US$134,40 hingga US$139,19 per barel,” tulis Wang Tao dalam laporan analisisnya.

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan

Lonjakan harga minyak saat ini terutama di picu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Serangan terhadap Iran yang di lancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran.

Bahwa konflik dapat meluas di kawasan penghasil minyak utama dunia.

Kawasan Teluk Persia merupakan jalur distribusi energi penting yang memasok sebagian besar kebutuhan minyak dunia.

Setiap eskalasi militer di wilayah tersebut berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak.

Selain Brent, kontrak minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate juga diperkirakan akan melanjutkan penguatan.

Harga WTI di prediksi berpotensi naik menuju puncak tahun 2022 di sekitar US$130,50 per barel setelah berhasil menembus level resistensi penting di US$101,71.

Analisis teknikal menunjukkan WTI saat ini berada dalam gelombang C yang kuat, yaitu bagian dari siklus tiga gelombang jangka panjang sejak titik terendah sekitar US$17 pada 2021.

Jika situasi geopolitik global terus memburuk, harga WTI bahkan berpotensi mencapai target konservatif di sekitar US$144,39 per barel dan target agresif hingga US$204,15 per barel.

Support Jangka Pendek Masih Terbatas

Dalam jangka sangat pendek, grafik lima menit menunjukkan level support awal Brent berada di sekitar US$105,74 per barel.

Jika harga menembus level tersebut, koreksi lanjutan berpotensi membawa harga turun menuju area US$103,50 per barel.

Meski demikian, analis menilai volatilitas pasar saat ini sangat tinggi sehingga cukup sulit mengidentifikasi level support kuat dalam jangka pendek.

Situasi geopolitik diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam waktu dekat. (*)

Show More
Back to top button