
POPNEWS.ID – Eropa terus mempertahankan posisinya sebagai kawasan dengan jumlah wisatawan terbanyak di dunia.
Data Organisasi Pariwisata Dunia PBB mencatat, sepanjang 2025 benua ini menerima sekitar 793,5 juta kunjungan.
Angka tersebut jauh melampaui kawasan lain, termasuk Asia.
Bahkan, negara populer seperti Spanyol mampu menarik lebih dari 96 juta wisatawan dalam setahun.
Namun, di balik gemerlap destinasi utama seperti Italia dan Prancis, terdapat sejumlah negara yang justru relatif sepi pengunjung.
Data Uni Eropa yang dirangkum oleh Riviera Travel menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam distribusi wisatawan di kawasan tersebut.
Negara Kecil Minim Akses Jadi Faktor Utama
Liechtenstein menempati posisi teratas sebagai negara paling sepi wisatawan.
Sepanjang 2024, wisatawan hanya menghabiskan sekitar 228 ribu malam di akomodasi negara kecil ini.
Luas wilayah yang terbatas serta ketiadaan bandara internasional membuat negara ini sulit dijangkau langsung.
Banyak wisatawan hanya singgah sebentar di ibu kota Vaduz sebelum melanjutkan perjalanan ke Swiss atau Austria.
Kondisi ini membuat durasi tinggal wisatawan sangat singkat.
Tidak Punya Pantai Kurangi Daya Tarik
Faktor geografis juga memengaruhi minat wisatawan.
Makedonia Utara, misalnya, belum mampu menyaingi popularitas negara Mediterania.
Ketiadaan garis pantai membuatnya kalah bersaing dengan Yunani atau Kroasia.
Padahal, negara ini menyimpan potensi besar seperti Danau Ohrid yang telah di akui sebagai situs warisan dunia.
Selain itu, ibu kota Skopje menawarkan perpaduan sejarah dan arsitektur unik.
Terjepit di Antara Raksasa Wisata
Luksemburg juga menghadapi tantangan serupa.
Meski berada di jantung Eropa Barat, negara ini sering luput dari perhatian karena di kelilingi destinasi populer seperti Belgia dan Belanda.
Sementara itu, negara-negara Baltik seperti Latvia, Estonia, dan Lithuania masih berada di luar jalur utama wisata Eropa.
Wisatawan global umumnya lebih memilih rute klasik seperti Paris, Roma, atau Amsterdam.
Destinasi “Hidden Gem” Mulai Dilirik
Meski tergolong sepi, beberapa negara mulai menunjukkan tren peningkatan kunjungan.
Montenegro misalnya, mulai populer berkat keindahan Teluk Kotor.
Albania juga menarik perhatian sebagai alternatif murah dari destinasi Mediterania.
Di sisi lain, Malta tetap memikat dengan kekayaan sejarahnya, sementara Serbia menawarkan kehidupan kota yang dinamis di ibu kota Beograd.
Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas destinasi.
Negara-negara yang lebih sepi justru memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang mencari ketenangan, harga terjangkau, serta keaslian budaya lokal.
Dengan tren wisata yang mulai bergeser ke arah eksplorasi destinasi alternatif, negara-negara ini berpotensi menjadi primadona baru di masa depan. (*)
