
POPNEWS.ID – Vicky Shu membagikan kisah transformasi tubuhnya setelah berhasil menurunkan berat badan hingga 11 kilogram.
Penyanyi yang dikenal lewat lagu Mari Bercinta 2 itu menegaskan dirinya memilih jalur alami melalui program manajemen berat badan berbasis medis, bukan operasi potong lambung.
Vicky menjalani program Halofit selama kurang lebih delapan minggu.
Selama proses tersebut, ia mendapatkan pendampingan dokter, pengaturan pola makan, hingga terapi GLP-1 untuk membantu mengontrol nafsu makan.
“Aku memilih program Halofit by Halodoc karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja,” ujar Vicky Shu dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Ia mengaku perubahan yang dirasakan bukan hanya pada bentuk tubuh, tetapi juga pada kualitas hidup sehari-hari.
Program tersebut membantunya lebih memahami kebutuhan tubuh dan membangun kebiasaan sehat secara bertahap.
Jalani Pengawasan Dokter dan Meal Plan Khusus
Vicky menjelaskan dirinya mendapatkan pengawasan medis selama 30 hari penuh.
Tim dokter dan ahli gizi menyusun meal plan yang sesuai dengan kondisi tubuhnya sehingga proses penurunan berat badan berjalan lebih terarah.
Selain menjaga pola makan, ibu dua anak itu juga mulai rutin berjalan kaki setiap hari untuk meningkatkan aktivitas fisik.
Ia menyebut terapi GLP-1 turut membantu mengendalikan keinginan makan berlebihan.
“Melalui program ini aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan aku lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata,” tuturnya.
Vicky juga merasa layanan berbasis online memudahkannya menjalani program di tengah jadwal kerja dan aktivitas keluarga yang padat.
“Halofit by Halodoc ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan aku yang sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga,” lanjutnya.
Ingin Bangun Gaya Hidup Sehat Berkelanjutan
Bagi Vicky, transformasi tubuh bukan tentang memenuhi standar kecantikan orang lain.
Ia justru ingin membangun pola hidup sehat yang dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan rasa percaya diri.
“Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain, karena tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru memiliki tubuh yang sehat, dan akhirnya pun dapat berdampak pada mental yang sehat,” katanya.
Sementara itu, VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengatakan obesitas perlu ditangani dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya fokus pada angka timbangan.
Menurutnya, program manajemen berat badan yang efektif harus menggabungkan edukasi, pendampingan tenaga medis, perubahan gaya hidup, serta terapi berbasis bukti ilmiah agar hasilnya lebih berkelanjutan. (*)


