Regional
Trending

Andi Harun Tekankan Kepemimpinan Inovatif dan Reformasi Birokrasi di PKN Tingkat II Samarinda

POPNEWS.ID – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan pentingnya kepemimpinan inovatif, integritas, dan transformasi birokrasi dalam menghadapi tantangan pemerintahan modern.



Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan X di Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik (Pusjar SKPP) LAN RI, Samarinda, Rabu (6/5/2026).

Kegiatan ini diikuti 66 peserta dari berbagai daerah dan kementerian, dengan peserta terbanyak berasal dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sebanyak 34 orang.

Selain itu, Pemerintah Kota Samarinda mengirimkan enam pejabat eselon II, sementara peserta lainnya berasal dari delapan kabupaten dan satu kota di empat provinsi.

Kepemimpinan di Tengah Krisis Pandemi

Dalam pemaparannya, Andi Harun membuka materi dengan menceritakan perjalanan kariernya sebagai pengacara, pengajar, sekaligus pengusaha.

Ia kemudian menyoroti pengalaman awalnya memimpin daerah saat pandemi COVID-19.

“Ketika dilantik, situasi masih penuh pembatasan dan semua orang bermasker. Di saat itu, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga roda ekonomi tetap bergerak di tengah situasi lockdown,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi krisis tersebut menguji kemampuan kepala daerah dalam mengambil keputusan cepat sekaligus menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Andi Harun menekankan komitmennya sejak awal menjabat untuk membangun pemerintahan yang bersih.

Ia menyatakan berupaya memutus praktik transaksional di lingkungan birokrasi.

Ia juga menyinggung upayanya mengubah persepsi politik yang sering dikaitkan dengan praktik uang.

Menurutnya, kepemimpinan yang baik harus bertumpu pada integritas dan kepercayaan publik.

“Saya ingin mengubah stigma bahwa politik selalu identik dengan praktik uang. Strategi, integritas, dan kepercayaan publik adalah modal utama untuk menang tanpa politik uang,” tegasnya.

Literasi Investasi untuk Aparatur dan Masyarakat

Dalam sesi tersebut, ia juga menyoroti pentingnya literasi investasi.

Andi Harun menjelaskan perbedaan pola pikir antara bekerja dan berinvestasi.

“Kalau kerja orientasinya bulanan, menunggu gaji datang. Tapi investasi itu jangka panjang. Saat kita memahami investasi, uang bisa bekerja untuk kita,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya masih mempelajari investasi saham, aset digital, hingga peternakan sebagai bagian dari penguatan ekonomi pribadi di tengah tantangan global seperti krisis pangan dan energi.

Andi Harun juga membagikan pengalaman membenahi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), termasuk PDAM Tirta Kencana yang saat awal kepemimpinannya masih mengalami kerugian.

“Saya beri waktu tiga bulan kepada direksi untuk membuat skema bagaimana perusahaan bisa untung,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa langkah awal yang ia ambil meliputi moratorium pegawai serta memastikan direksi tidak terlibat dalam politik praktis.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan clean government.

Cetak Pemimpin Perubahan

Di akhir pemaparannya, Andi Harun menekankan bahwa pelatihan kepemimpinan seperti PKN dan diklat aparatur harus melahirkan pemimpin yang mampu menjadi penggerak perubahan.

“Pejabat yang ikut pelatihan di sini harus menjadi super coach. Tugasnya bukan hanya bekerja sendiri, tapi mampu menggerakkan staf menjadi individual contributor di institusinya masing-masing,” ucapnya.

Ia juga menyoroti tantangan birokrasi modern yang menghadapi “paradoks performa”, di mana masyarakat menuntut pelayanan cepat sementara sistem birokrasi masih cenderung lambat.

“Yang paling penting adalah mindset, bagaimana kita mampu memanajemen diri dan membangun budaya kerja yang adaptif, cepat, dan berdampak,” pungkasnya. (*)

Show More
Back to top button