
POPNEWS.ID – Tirtonegoro Foundation bersama Pemerintah Kota Samarinda mematangkan persiapan Nostalgia Kala Fest 2026 dalam audiensi di Balai Kota Samarinda, Selasa (12/5/2026).
Festival ini mengusung tema “Menghidupkan Warisan Seni dan Budaya Kaltim” dan dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali identitas budaya tempo dulu yang dinilai mulai tergerus modernisasi.
Tahun sebelumnya, Kala Fest mencatat sukses besar dengan ribuan pengunjung serta viral di media sosial.
Komunitas Anak Muda Dorong Gerakan Budaya
Ketua Tirtonegoro Foundation, Rahmad Azazi Rhomantoro, menjelaskan bahwa komunitasnya bergerak di bidang seni, budaya, literasi, dan riset sastra tradisi.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama gerakan ini berasal dari anak muda yang ingin menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal.
“Komunitas kami banyak diisi anak muda sehingga gerakannya bersifat organik. Kami ingin budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali dalam ruang publik,” ujar Rahmad.
Ia menambahkan bahwa festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Menurutnya, elemen seperti sepeda ontel dan UMKM tradisional memiliki nilai sejarah yang harus terus dipertahankan.
Polemik Venue dan Ancaman Hilangnya Ikon Budaya
Persiapan festival tahun ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah elemen ikonik seperti komunitas sepeda ontel dan UMKM bahari terancam tidak dapat tampil akibat pertimbangan penggunaan kawasan Citra Niaga sebagai lokasi utama.
Rahmad menyayangkan potensi hilangnya elemen tersebut.
“Padahal sepeda ontel ini adalah warisan seni tempo dulu yang perlu diangkat. Kalau hilang, kita kehilangan bagian penting dari cerita budaya kita,” tegasnya.
Sebagai alternatif, panitia sempat mempertimbangkan pemindahan lokasi ke Temindung Hub.
Namun wacana tersebut masih menuai berbagai pertimbangan dari lintas instansi.
Pemerintah Dorong Solusi Kolaboratif
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri memberikan apresiasi terhadap inisiatif komunitas muda tersebut.
Ia menilai festival ini sebagai gerakan positif yang lahir dari kreativitas anak muda dan layak mendapat dukungan penuh pemerintah.
“Anak-anak muda di Samarinda harus kita angkat. Pemerintah harus hadir dengan memfasilitasi ide-ide mereka,” ujar Saefuddin.
Ia juga mendorong agar festival tetap digelar di Citra Niaga dengan pengaturan teknis yang lebih matang.
Menurutnya, sepeda ontel dapat ditempatkan di area luar, sementara UMKM diatur agar tidak berbenturan dengan pedagang eksisting.
“Citra Niaga punya nilai historis yang tidak bisa digantikan begitu saja. Kita harus cari solusi, bukan sekadar pindah lokasi,” tambahnya.
Dorongan Lokasi Alternatif dan Kolaborasi Lintas Dinas
Sementara itu, Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Samarinda mendorong agar panitia mempertimbangkan lokasi baru di kawasan Samarinda Ulu.
Pemerintah menilai ruang terbuka yang belum optimal dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budaya berskala besar.
Di sisi lain, Kabag Ekonomi Setda Samarinda menekankan pentingnya koordinasi lintas dinas agar tidak terjadi konflik dengan pelaku usaha yang sudah ada di kawasan tersebut.
Audiensi akhirnya menyepakati bahwa Nostalgia Kala Fest 2026 tetap diupayakan berlangsung di Citra Niaga dengan penguatan koordinasi antarinstansi.
Pemerintah dan panitia sepakat mengedepankan komunikasi langsung agar festival budaya ini dapat berjalan meriah tanpa mengganggu ekosistem ekonomi yang sudah ada. (*)
