
POPNEWS.ID – Konsistensi Pemerintah Kota Samarinda dalam menempatkan kebudayaan sebagai pilar pembangunan kembali menuai pengakuan nasional. Walikota Samarinda, Andi Harun, resmi masuk tiga besar nasional kategori Walikota Terbaik dalam Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026.
Prestasi ini menegaskan posisi Samarinda sebagai salah satu kota yang mendapat nilai berhasil menjaga, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan lokal melalui kebijakan yang terukur dan berkelanjutan. Dalam ajang bergengsi tersebut, Samarinda bersaing dengan Kota Malang dan Kota Mataram sebagai finalis utama kategori walikota.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjadi ruang apresiasi bagi kepala daerah yang tidak hanya berbicara soal budaya, tetapi menghadirkannya dalam bentuk kebijakan nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pelaku budaya.
PWI Nilai Kebudayaan Jadi Bagian Pembangunan Kota Samarinda
PWI Pusat menilai Andi Harun mampu menjadikan kebudayaan sebagai bagian integral dari pembangunan daerah. Dewan juri melihat adanya kesinambungan antara visi kepemimpinan, kebijakan anggaran, serta implementasi program yang berpihak pada pelestarian budaya.
Dewan juri independen melakukan penilaian secara ketat yang berasal dari unsur pers, akademisi, dan pegiat budaya. Kriteria utama mencakup keberpihakan pemerintah daerah terhadap pelaku budaya, kesinambungan program, serta output dari dampak sosial dan ekonomi.
Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 berjumlah lima orang, terdiri dari unsur internal dan eksternal PWI Pusat, yakni:
- Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari, artis film)
- Agus Dermawan T. (Pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI)
- Sudjiwo Tejo (Seniman, budayawan, anggota Tim Pakar PWI Pusat)
- Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat 2025–2030)
- Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis, penyair)
Dalam tahapan awal seleksi, PWI Pusat menetapkan sepuluh kepala daerah terbaik nasional sebagai finalis Anugerah Kebudayaan 2026. Dari jumlah tersebut, tiga kepala daerah kategori walikota berhasil masuk tiga besar, yakni Walikota Malang Wahyu Hidayat, Walikota Samarinda Andi Harun, dan Walikota Mataram Mohan Roliskana. Tujuh finalis lainnya berasal dari kategori bupati.
Masuknya Walikota Samarinda dalam daftar elit nasional tersebut menunjukkan bahwa kebijakan budaya yang berjalan tidak bersifat simbolik, melainkan terstruktur dan memiliki arah jangka panjang.
Sarung Samarinda Jadi Representasi Identitas Kota Tepian
Dalam sesi presentasi yang berlangsung di Jakarta pada 8–9 Januari 2026, Andi Harun memaparkan langsung inovasi kebudayaan yang menjadi andalan Kota Samarinda. Ia memilih Sarung Samarinda sebagai narasi utama yang merepresentasikan identitas Kota Tepian.
Dalam presentasinya di hadapan dewan juri, Andi Harun juga menyinggung tantangan besar yang harus Sarung Samarinda hadapi di tengah arus perubahan zaman dan industrialisasi tekstil.
Ia menjelaskan bahwa masifnya produksi tekstil modern, perubahan selera generasi muda, serta tuntutan pasar global membuat Sarung Samarinda berada dalam posisi rentan terhadap komersialisasi yang berlebihan.
“Tekstil diproduksi secara masif, sementara generasi muda terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Di situ Sarung Samarinda berada pada posisi yang rentan dalam arus komersialisasi,” ujar Andi Harun pada Jumat (9/1/2026) di jakarta.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak boleh menjadi penyesalan. Sebaliknya, pemerintah daerah harus hadir melalui kebijakan yang tepat untuk meminimalkan kesenjangan antara pelestarian nilai budaya dan tuntutan ekonomi.
“Tantangan ini tidak bisa kita sesali. Justru untuk meminimalkan gap itu, tantangan harus kita hadapi dengan kebijakan yang berpihak, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Andi Harun, kebijakan menjadi kunci agar Sarung Samarinda tetap hidup sebagai identitas budaya, sekaligus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai filosofis dan historisnya di tengah dinamika industri kreatif
Dorong Pengakuan Sarung Samarinda di Tingkat Nasional
Walikota Samarinda itu juga menyampaikan optimisme tinggi terhadap peluang Sarung Samarinda untuk mendapatkan pengakuan sebagai Anugerah Pusaka Nasional. Ia menilai Pemkot Samarinda telah membangun narasi budaya yang kuat, lengkap dengan dukungan kebijakan dan program pendukung.
“Kami optimis karena narasinya sudah kuat. Jika sudah diakui sebagai pusaka nasional, ke depan bukan tidak mungkin Sarung Samarinda bisa mendapatkan pengakuan internasional, termasuk melalui UNESCO,” tambahnya pada Kamis (8/6/2026).
Pemkot Samarinda secara aktif mendorong pelestarian Sarung Samarinda melalui pembinaan perajin, fasilitasi promosi, serta penguatan peran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Pemerintah kota juga mengintegrasikan Sarung Samarinda dalam berbagai agenda pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kolaborasi Jadi Kunci Pemajuan Kebudayaan
Keberhasilan Walikota Samarinda masuk tiga besar Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 tidak lepas dari pendekatan kolaboratif yang Pemkot Samarinda jalankan. Pemerintah kota menggandeng komunitas seni, budayawan, pelaku UMKM, akademisi, dan media massa dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Pendekatan ini sejalan dengan tema Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, yakni “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers.”
Puncak pengumuman pemenang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 berlangsung pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan berlangsung di Provinsi Banten pada 9 Februari 2026.
Bagi Pemerintah Kota Samarinda, capaian ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat kebudayaan sebagai fondasi pembangunan kota. Pemkot Samarinda berharap kebudayaan tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga penggerak ekonomi, perekat sosial, dan sumber kebanggaan masyarakat Kota Tepian.
(Redaksi)

