
POPNEWS.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak nasional Abu Dhabi (ADNOC) menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu dini hari, 8 Agustus 2026.
Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, tetapi serangan ini memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama pengiriman energi dunia.
Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
Sikap tersebut muncul ketika Washington dan sejumlah negara kawasan berupaya mencari kesepakatan untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz diketahui memiliki posisi penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal di selat itu langsung memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi global.
Iran Tetapkan Syarat Pembukaan Selat
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Sardar Mohbi, mengatakan pembukaan kembali selat bergantung pada mekanisme dan persyaratan khusus yang ditetapkan Republik Islam Iran.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak berkaitan dengan negosiasi antara Iran dan Oman.
Pernyataan Iran muncul ketika sejumlah pihak berupaya mencari mekanisme untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Iran dan Oman dilaporkan membahas kemungkinan pengaturan rute transit kapal. Dalam skema tersebut, kapal yang masuk akan melewati perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar menggunakan perairan Oman.
Ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz turut mengganggu aktivitas pelayaran.
Perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun 33 persen pada Jumat dibandingkan sehari sebelumnya.
Sebagian besar kapal yang tetap melintas memilih menggunakan rute melalui perairan Iran.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya memberi sinyal bahwa kesepakatan untuk membuka kembali selat dan menjamin kebebasan navigasi dapat segera tercapai.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan tersebut bahkan dapat tercapai paling cepat pada Rabu. Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyampaikan sinyal serupa.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan.
Iran Siapkan Pembatasan Pelayaran
Media pemerintah Iran sebelumnya menerbitkan rancangan aturan yang berpotensi semakin membatasi pelayaran di Selat Hormuz.
Kantor berita Fars melaporkan parlemen Iran masih meninjau rancangan tersebut.
Dalam rancangan itu, Iran akan melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi selat.
Iran juga berencana membatasi kapal dari negara-negara yang dianggap telah merugikan Teheran hingga negara tersebut membayar kompensasi.
Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan di jalur energi strategis dunia dan membuat pasar minyak terus mencermati setiap langkah Iran maupun Amerika Serikat terkait pembukaan Selat Hormuz. (*)



