POPNEWS.ID – Lampu studio XXI Big Mall Samarinda belum menyala, tetapi isak tangis sudah terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Sejumlah penonton tampak menundukkan kepala sambil mengusap air mata. Ada yang memeluk anak di sampingnya, ada pula yang memilih diam, berusaha menenangkan perasaan setelah menyaksikan film Jangan Buang Ibu.
Suasana penuh haru itu terjadi dalam kegiatan nonton bareng yang digelar Lions Club Mahardika, Selasa (7/7/2026).
Sebanyak 44 anak yatim, 24 ibu-ibu pengajian, serta sejumlah wartawan diundang untuk menyaksikan film yang mengangkat kisah pengorbanan seorang ibu demi masa depan anak-anaknya.
Bagi sebagian orang, menonton film mungkin hanya menjadi hiburan.
Namun, siang itu, layar bioskop justru berubah menjadi ruang refleksi. Setiap adegan yang menampilkan perjuangan seorang ibu membesarkan anak-anaknya membuat suasana studio semakin emosional.
Tangis penonton mulai pecah ketika cerita memasuki konflik keluarga yang menguras emosi.
Beberapa ibu pengajian terlihat tak kuasa membendung air mata.
Anak-anak yatim yang duduk di barisan tengah juga tampak larut dalam cerita. Bahkan, sejumlah wartawan yang meliput kegiatan tersebut ikut terdiam menyaksikan jalannya film.
Perwakilan anak yatim, Anisa, mengaku kisah dalam film tersebut mengingatkannya pada sosok ibu dan membuatnya semakin memahami besarnya kasih sayang orang tua.
“Filmnya sangat menyentuh. Saya jadi teringat ibu dan merasa bahwa kasih sayang seorang ibu tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Pesan yang saya dapat, kita harus selalu menyayangi dan menghormati orang tua,” ujar Anisa.
Anggota Lions Club Mahardika, Fithresia Marcelina, mengatakan pemilihan film tersebut bukan tanpa alasan.
Menurutnya, Jangan Buang Ibu menyampaikan pesan moral yang kuat dan dapat diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
“Kami mengajak anak-anak menonton bersama supaya mereka mendapatkan pesan moral dari film ini. Bukan hanya anak-anak, ibu-ibu yang menonton juga bisa mendapatkan edukasi,” katanya.
Menurut Fithresia, film tersebut tidak hanya mengajarkan anak untuk menghargai pengorbanan orang tua, tetapi juga menjadi pengingat bagi para orang tua agar belajar mengikhlaskan anak ketika mereka tumbuh dewasa.
“Pada saatnya nanti kita harus merelakan anak-anak memiliki kehidupannya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk terus bersama kita atau selalu berada di dekat orang tuanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Lions Club selama ini dikenal sebagai organisasi sosial yang aktif menjalankan berbagai kegiatan kemanusiaan.
Tidak hanya memberikan bantuan sosial, organisasi tersebut juga rutin menggelar khitanan massal, pemeriksaan kesehatan perempuan, pembagian bantuan, hingga berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kepedulian sosial.
Khusus dalam kegiatan kali ini, Lions Club Mahardika sengaja mengajak anak-anak panti asuhan agar mereka memperoleh pengalaman yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga membangun ketahanan emosional.
“Kami berharap mereka bisa memahami bahwa setiap orang tua memiliki alasan dalam setiap keputusan hidupnya. Jangan sampai mereka merasa dibuang atau membenci orang tuanya. Semoga mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” tutur Fithresia.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Lions Club Indonesia yang diinisiasi dari Jakarta.
Samarinda dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan agar kegiatan sosial dapat menjangkau lebih banyak daerah dan tidak hanya berpusat di kota-kota besar.
“Kami ingin kegiatan seperti ini juga bisa dirasakan masyarakat di daerah. Harapannya, semakin banyak orang yang tersentuh dan semakin peduli terhadap keluarga maupun sesama,” katanya.
Usai pemutaran film, para peserta tidak langsung meninggalkan studio.
Sebagian masih duduk di kursinya, mencoba meredakan emosi setelah menyaksikan kisah yang begitu dekat dengan kehidupan.
Beberapa peserta saling berbagi cerita tentang ibu mereka, sementara anak-anak yatim tampak berbincang dengan para pendamping.
Bagi Lions Club Mahardika, kegiatan itu bukan sekadar mengajak masyarakat menonton film bersama.
Di balik layar lebar yang menampilkan sebuah cerita, terselip harapan agar setiap penonton pulang dengan pemahaman baru bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah dapat diukur dengan apa pun.
Selama masih ada kesempatan, cinta, perhatian, dan bakti kepada orang tua adalah hal yang tak seharusnya ditunda. (redaksi)