YOUR DAILY POP CULTURE FIX
Jumat, 30 Oktober 2026
NEWS

Raffi Ahmad dan Willie Salim Ada dalam Foto Deklarasi Sumpah Pemuda yang Diterpa Isu Mahasiswa Bayaran

vns
POP
vns

POPNEWS.ID – Kehadiran Raffi Ahmad dan Willie Salim dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, menjadi sorotan setelah muncul dugaan sejumlah peserta menerima bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Dokumentasi acara yang Polda Metro Jaya gelar pada Kamis (29/10/2026) memperlihatkan Raffi Ahmad bersama sejumlah selebritas ikut meramaikan deklarasi kebangsaan tersebut.

Kegiatan bertema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” itu juga melibatkan aparat TNI-Polri, mahasiswa, organisasi masyarakat, dan berbagai komunitas.

Namun, perhatian publik kemudian tertuju pada identitas peserta yang mengenakan jas almamater sejumlah perguruan tinggi. Sejumlah video wawancara wartawan dengan peserta beredar di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai status mereka sebagai mahasiswa.

Peserta Mengaku Menerima Bayaran Rp50 Ribu

Salah satu video memperlihatkan seorang pria berambut kecokelatan yang mengaku bernama Dion dari kampus Bina Sarana Informatika (BSI) ketika wartawan menanyakan asal perguruan tingginya.

Setelah video tersebut ramai jadi perbincangan, pria itu memberikan klarifikasi. Ia mengaku bernama asli Bayu dan bukan mahasiswa. Ia juga menjelaskan bahwa seseorang memberikan almamater tersebut kepadanya tanpa menjelaskan asal-usul atribut kampus itu.

Dalam klarifikasinya, Bayu mengaku menerima uang Rp50 ribu untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya adalah orang yang di video ini. Saya di sini mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa… Berdasarkan info dari komunitas saya dibayar. Mengenai almamater yang saya kenakan, itu diberikan kepada saya, tanpa saya ketahui asal usulnya,” ungkap Bayu.

Unggahan lain di media sosial menyebut Bayu bekerja sebagai penjual kopi keliling di sekitar Terminal Kalideres. Informasi tersebut masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.

Perempuan Beralmamater BSI Ikut Menuai Sorotan

Selain Bayu, seorang perempuan bernama Sari juga menarik perhatian warganet. Dalam video wawancara, perempuan tersebut mengenakan almamater biru bertuliskan Bina Sarana Informatika.

Ketika wartawan menanyakan asal kampusnya, Sari terlihat kebingungan memberikan jawaban.

Situasi tersebut mendorong akun media sosial mahasiswa UBSI, Dewi Sartika, mengunggah pencarian terhadap sosok Sari. Ia juga menyampaikan kritik mengenai penggunaan identitas kampus tanpa tanggung jawab terhadap nama baik institusi.

“DICARI: YANG BANGGA MEMBAWA NAMA KAMPUS, TAP] LUPA MENJAGA MARWAHNYA. Mahasiswa seharusnya menjadi representasi intelektualitas, integritas, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Bukan sekadar membawa nama kampus demi pencitraan atau kepentingan pribadi. Almamater bukan alat untuk mencari panggung. Identitas mahasiswa bukan sekadar atribut untuk mendapatkan pengakuan. Ada tanggung jawab, nilai, dan marwah institusi yang seharusnya selalu terjaga.

Jika membawa nama kampus ke ruang publik, maka pertaruhannya bukan hanya nama pribadi, tetapi juga kepercayaan terhadap mahasiswa dan institusi tempat Ia menimba ilmu.

Berani membawa nama almamater, harus berani mempertanggungjawabkan sikap dan tindakannya. Kampus bukan panggung pribadi. Mahasiswa bukan alat pencitraan. Integritas harus lebih besar daripada ambisi,” unggah akun mahasiswa UBSI.

Warganet Pertanyakan Dugaan Peserta Bayaran

Polemik tersebut semakin ramai setelah sejumlah warganet mengomentari identitas peserta dalam video yang beredar.

Salah satu akun mengaku mengenali Sari sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Akun tersebut juga mempertanyakan dugaan pembayaran kepada Sari.

“Eh sariii kocakkk baru liat. lu kan art budeku 2 tahun yang lalu anjirrr shockkkk mau aku kirim di budeku .. ngadi ngadiii luuu sari dibayar berapa sari???,” tulis akun @afiergyosa.

Berbagai unggahan tersebut memicu perdebatan mengenai dugaan penggunaan peserta bayaran dalam kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa.

Raffi Ahmad Ajak Pemuda Lawan Hoaks dan Provokasi

Di tengah polemik tersebut, Raffi Ahmad menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga persatuan dan menanamkan rasa cinta Tanah Air.

Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni itu mengajak generasi muda meneruskan perjuangan para pahlawan melalui cara yang sesuai dengan tantangan zaman.

“Memperingati Hari Sumpah Pemuda, kita menggelorakan semangat untuk para pemuda Indonesia, pemuda dan pemudi, terutama tanamkan rasa cinta Tanah Air dalam hati kita sampai kapan pun,” kata Raffi kepada wartawan di lokasi.

Ia menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan berbeda daripada para pejuang kemerdekaan. Karena itu, anak muda perlu menghadapi penyebaran informasi palsu dan provokasi di ruang digital.

“Generasi muda harus meneruskan perjuangan para pahlawan kita di zaman sekarang ini. Kalau di zaman dulu mungkin kita melawan dengan bambu runcing, mungkin untuk sekarang kita melawan hoaks dari media sosial, melawan ujaran kebencian, melawan provokasi, dan juga yang pastinya jangan pemuda dan pemudi kita terpecah belah,” ujar Raffi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa pihaknya menggelar deklarasi tersebut untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026.

“Melalui acara ini, kami hadir dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026 dengan tema Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia,” kata Budi.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi acara seremonial, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat.

“Kami berharap dengan adanya agenda ini bukan sifatnya hanya seremonial menyampaikan deklarasi, tapi ini menjadikan kita satu. Tadi dipimpin oleh Kapolres Metro Jakarta Pusat, di mana bangsa kita, negara kita, bahasa, ini adalah Indonesia,” tuturnya.

Hingga berita ini terbit, Polda Metro Jaya maupun penyelenggara belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan peserta bayaran dan identitas sejumlah orang yang mengenakan almamater kampus tersebut.

(Redaksi)

Inti Berita

  • Kegiatan bertema "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia" itu juga melibatkan aparat TNI-Polri, mahasiswa, organisasi masyarakat, dan berbagai komunitas.
  • Namun, perhatian publik kemudian tertuju pada identitas peserta yang mengenakan jas almamater sejumlah perguruan tinggi.
  • Sejumlah video wawancara wartawan dengan peserta beredar di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai status mereka sebagai mahasiswa.
vns
POPNEWS
Penulis:

vns

Tim editorial Popnews yang menghadirkan kabar musik, film, selebritas, dan tren gaya hidup terkini.