
POPNEWS.ID – Dea Annisa memberikan klarifikasi terkait pertanyaan publik tentang status pernikahannya.
Meski sudah menginjak usia 30 tahun, Dea menegaskan bahwa dirinya belum menikah bukan karena menjadi tulang punggung keluarga, melainkan karena prinsip pribadi dalam memilih pasangan hidup.
Dea menuturkan hal itu saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Melaney Ricardo.
“Kita makan aja milihnya bisa sejam, lama. Apalagi seumur hidup. Masak kita mau cap, cip, cup, istilahnya. Gaklah, maunya kan yang terbaik untuk selamanya,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Prinsip Menikah Sekali Seumur Hidup
Dea menegaskan bahwa ia memegang prinsip menikah hanya sekali untuk seumur hidup.
Ia ingin memastikan pilihan pasangannya benar-benar tepat dan sesuai dengan visi hidupnya.
“Aku gak mau terburu-buru hanya karena tekanan usia atau pandangan orang lain. Menikah itu keputusan besar, jadi harus dipikirkan matang-matang,” kata Dea.
Prinsip ini sekaligus menjawab asumsi publik yang mengaitkan status lajangnya dengan tanggung jawab keluarga.
Ia menekankan bahwa keputusan pribadinya tidak ada hubungannya dengan menjadi tulang punggung keluarga.
Klarifikasi dari Ibunda
Sebelumnya, ibunda Dea, Masayu, sempat menyebut bahwa Dea menunda menikah karena mengesampingkan ego pribadi demi keluarga, kakak, dan adiknya.
Dea menanggapi pernyataan ibunya dengan bijak.
Ia menilai ucapan sang ibu lahir dari rasa bangga, dan tidak seharusnya di anggap sebagai alasan utama belum menikah.
“Ini salah banget kalau di bilang belum nikah karena jadi tulang punggung. Orang tua kan ingin membanggakan anaknya, mungkin kata-katanya jadi di salahartikan,” jelasnya.
Tidak Terpengaruh Tanggapan Negatif
Dea juga menegaskan bahwa ia tidak terlalu mempedulikan komentar negatif netizen.
Menurutnya, yang paling tahu bagaimana kondisi keluarganya adalah ia sendiri dan orang-orang terdekat.
“Memang terserah netizen bagaimana memikirkan, tapi yang tahu keluarga aku seperti apa ya kita sendiri,” tegasnya.
Dengan klarifikasi ini, Dea berharap publik lebih memahami bahwa keputusan pernikahan adalah urusan pribadi, bukan sekadar tanggung jawab keluarga.
Sikapnya yang matang menunjukkan bahwa menikah bukan soal cepat, tapi soal kesiapan dan kecocokan jangka panjang. (*)
