
POPNEWS.ID – Dunia maya kembali diramaikan insiden tak terduga saat seorang influencer asal China mengalami glitch filter kecantikan ketika melakukan siaran langsung.
Peristiwa itu terjadi ketika sang kreator tengah berjoget mengikuti musik latar di sebuah platform live streaming populer seperti Douyin.
Dalam hitungan detik, filter kecantikan yang biasa membuat wajahnya tampak lebih pucat, tirus, dan halus tiba-tiba mengalami error.
Penonton menyaksikan perubahan drastis ketika wajah asli sang influencer terlihat jelas sebelum filter kembali aktif dan berganti-ganti secara tidak stabil.
Potongan video tersebut segera tersebar luas di berbagai platform, termasuk TikTok, dan memicu gelombang reaksi publik.
Filter Error Picu Reaksi Beragam
Insiden itu langsung memancing perhatian warganet.
Sebagian pengguna mengaku kecewa dan merasa tertipu oleh citra digital yang selama ini ditampilkan.
Mereka menilai sang influencer terlalu bergantung pada filter untuk membangun persona visualnya.
Komentar bernada sarkastik pun membanjiri kolom unggahan ulang video tersebut.
Beberapa netizen menyebut filter itu sebagai “topeng digital” yang akhirnya terlepas di hadapan publik.
Mereka menilai kejadian ini membuktikan bahwa tidak semua yang terlihat di layar mencerminkan kenyataan.
Namun, tidak sedikit pula yang membela sang kreator.
Banyak pengguna menegaskan bahwa wajah aslinya tetap menarik dan wajar seperti kebanyakan orang.
Mereka justru menyayangkan munculnya perundungan yang mereka anggap berlebihan.
Sejumlah komentar menyoroti kerasnya standar kecantikan di media sosial yang sering kali tidak realistis.
Dampak Nyata pada Jumlah Pengikut
Tak lama setelah video tersebut viral, jumlah pengikut sang influencer di laporkan turun drastis hingga sekitar 140 ribu akun.
Penurunan itu terjadi dalam waktu singkat dan langsung menjadi sorotan.
Dalam ekosistem live streaming, jumlah pengikut berkorelasi langsung dengan potensi pendapatan.
Kreator biasanya memperoleh penghasilan dari kerja sama endorsement, promosi produk, hingga hadiah virtual dari penonton.
Ketika angka pengikut menurun signifikan, peluang komersial pun ikut terpengaruh.
Pengamat media sosial menilai insiden ini mencerminkan ketergantungan industri kreator terhadap citra visual yang di anggap “sempurna”.
Banyak influencer memanfaatkan filter sebagai alat bantu standar untuk meningkatkan daya tarik di layar.
Kasus ini sekaligus membuka diskusi lebih luas tentang batas antara realitas dan persona digital.
Di tengah persaingan ketat dan tuntutan tampil ideal, kreator menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan citra.
Insiden glitch tersebut menjadi pengingat bahwa di balik layar yang tampak sempurna, ada manusia nyata dengan wajah dan karakter aslinya. (*)

